Senin, 12 Mei 2008

renungkanlah wahai saudaraku



Dengan Puisi
Dengan puisi aku bernyanyi
Sampai senja umurku nanti
Dengan puisi aku bercinta
Berbatas cakrawala
Dengan puisi aku mengenang
Keabadian yang akan datang
Dengan puisi aku menangis
Jarum waktu bila kejam mengiris
Dengan puisi aku mengutuk
Napas jaman yang busuk
Dengan puisi aku berdoa
Perkenankanlah kiranya

Bimbo
Ahmad Ibroh Kutip RENUNGLAH SELALU PERJALANAN HATI

Renunglah selalu hati kita
Karena ia merupakan sumber kebaikan dan kejahatan
Wadah kekufuran dan keimanan
Rebutan di antara malaikat dan syaitan
Hati perasaannya halus
Sentuhannya tidak terasa
Tapi sangat memberi kesan di dalam kehidupan kita
Siapa yang arif perjalanan hatinya
Paham kebaikan dan kejahatannya
Bersungguh bermujahadah membuang kejahatannya
Diganti segera dengan kebaikan
Orang itu akan selamat
Dari tipu daya syaitan dan dunia
Ramaia orang tidak paham
Perjalanan hatinya sekalipun ulama
Terima saja yang baik dan yang buruknya
Kemudian merasakan baik semuanya
Tidak terasa lagi membuat dosa
Disinilah perlu pimpinan
Guru yang mengenal hati manusia

(Ibnu Zaman)
JAGALAH RAJA DIRI


Jagalah raja diri yang mentakdir segala rakyatnya
Hati namanya
Baik raja, baiklah rakyatnya,
Jahat raja, jahatlah rakyatnya.
Suluhlah hati hingga ke dasarnya.
Bersihkan mazmumahnya hingga ia menjadi menjadi murni,
Ia akan memancarkan cahaya hidayah ilahi,
Memenuhi seluruh anggota, hingga ke seluruh kehidupan
Jangan hitamkan hati,
Kita akankehilangan cahaya hidayah,
Fisik akan hidup terombang-ambing di tengah kegelapan.
Tanda hati itu hitam ada 3 perkara :
Tidak terkejut dengan dosa-dosa
Tidak menjadikan tempat menerima nasihat.
Jika lahir dan batin sama saja, ketaatannya, adil namanya
Jika yang batin lebih bersih dari yang lahir,
Keutamaan namanya,
Jika yang lahir nampak bersih, dalamnya kotor,
Fasik atau durhaka,
Kalau dibiarkan berterusan ini akan membawa kepada nipak
Jagalah hati dan bersihkan dengan sungguh-sungguh,
Jangan sampai pintunya telah tertutup rapat,
Untuk menerima segala kebaikan.
Susahnya Menjaga Hati

Susahnya menjaga hati
Sedangkan ia adalah pandangan Tuhan
Ia merupakan wadah rebutan di antara malaikat dan syaitan
Masing-masing ingin mengisi
Malikat dengan hidayah, syaitan dengan kekufuran
Bila tiada hidayah, ilmupun tidak menjamin
Sekalipun ia perlu
Susahnya menajga hati
Bila dipuji ia berbungan terasa luar biasa
Bila dicaci aduh sakitnya, pencaci dibenci
Bahkan berdendam sampai mati
Bila berilmu atau kaya, sombong mengisi dada
Jika miskin atau kurang ilmu
Rendah diri pula dengan manusia
Adakalanya kecewa, puncaknya putus asa
Takdir yang menimpa susah untuk reda
Ujian yang datang sabar tiada, jiwa menderita
Kelebihan orang lain hati tersiksa
Kesusahan orang lain, hati menghina
Bahkan terhibur pula
Menegur orang suka, ditegur hati luka
Aduh susahnya menjaga hati
Patutlah ia dikatakan raja diri
Bukankah sifat sombong pakaian raja

(Ibnu Zaman)




Tuhan, Luruskanlah Hatiku

Sungguh sudah hendak meluruskan hati
Berubah sahaja situasi
Dia pun berubah pula
Susah sangat hendak dicorakkan
Di dalam satu warna
Warna hati senantiasa berubah
Dia tidak mau istiqamah
Mudah sahaja tergugat oleh suasana
Apabila mendapat ujian kesusahan
Dia mulai gelisah
Jika ditambah lagi ujian
Jiwa bertambah parah
Manakal mendapat kesenangan
Bunganya bertambah merah dan cerah
Dia terlonta-lonta kegirangan, lupa daratan
Dia terasa orang istimewa
Orang lain semuanya malang
Tuhan ! luruskan hatiku
Di dalam sembarang situasi
Di waktu susah dan senang
Di masa sempit dna lapang
Engkau jadikanlah hatiku
Di dalam sembarang waktu tidak cacat denganMu
Bahkan setiap kejadian yang berlaku menguatkan imanku
Kekalkan Selalu Sifat Hamba

Orang yang tidak merasa bersalah dengan dosa, celaka
Orang yang merasa aman dengan kebaikan, binasa
Orang yang berbangga dengan ketaatan di anggap durhaka
Orang binasa dengan dosanya
Ada orang selamat dengan dosa, bila menderita karenanya
Selalu meminta ampun kepada Tuhannya
Ada orang binasa dengan amal saleh
Yang tiada lagi merasa berdosa
Ada orang yang selamat dengan amal soleh
Tapi merasa dia orang jahat yang tiada berguna
Setiap amal ibadah yang dibuat
Tidak merasa lagi kehamban yang hina
Tiada berguna lagi ibadahnya
Allah mau setiap orang merasa hina, rasa berdosa selalu
Sekalipun tidak melakukannya, betapa membuatnya
Tuhan mau setiap orang melupakan amal ibadahnya
Justru amal ibadah belum tentu diterima
Lebih-lebih lagi amalibadah itu Tuhan punya
CiptaanNya, anugrahNya kepada hambaNya
Yang perlu diingat adalah dosa
Setiap dosa sekalipun kecil, Allah murka
Jika tidak diampunkanNya, nerakalah akibatnya
Merendah dirilah kepadaNya, sematkan rasa takut di dalam jiwa
Ia adalah sifat hamba, rasa itu kekalkan selalu
Ia akan mensyafaatkan kita
Kalau Tuhan Senantiasa di Hati

Kalaulah kuasa Tuhan itu senantiasa di hati
KebesaranNya memenuhi hati manusia
Nikmat dan rahmatNya senantiasa hati terasa malu
Dan malu menerimanya
Qahhar dan Jabbarnya senantiasa menggerunkan hati manusia
Balasan dan hukumannya benar-benar
Kapan saja dapat berlaku terhadap hamba-hambaNya
Mati benar-benar terasa kecut dan menakutkan
Gemetar dan menggeletar hati merasakannya
Apakah hati seperti ini boleh dilalaikan
Apakah hati begini dapat ditipu daya oleh nafsu dan syaitan
Apakah hati ini dapat dipengaruhi oleh dunia dan nikmatNya
Sudah tentu tidak, sekali lagi tidak
Sudah tentu hatinya senantiasa terpelihara
Tuhan akan menjaganya
Tuhan akan memeliharanya
Tuhan akan mengisinya dengan iman dan keyakinan
Lalainya tiada kecuali sedikit sahaja
Karena manusia ini tiada sempurna kecuali Nabi dan Rasul
Inilah yang dikatakan hati atau jiwa jangan sampai jahat
Atau jagalah dia jangan sampai dia durhaka









Marilah Kepada-Ku

Marilah kepdaKu hamba-hambaKu
Bersegeralah pulang ke pangkuanKu
Segeralah bertaubat selalu !
Aku tetap menerimamu, percayalah
Aku tahu kamu hamba-hambaKu CiptaanKu
Kamu adalah lemah
Kelalaian dan kealpaan adalah watakmu
Aku mau akuilah kelemahan itu
Setiap kali bersalah kamu datang kepadaKu
Kemudian mengakulah bersalah
Menangislah di depanKu, tanda penyesalan yang tiada sudah
Kalau engkau lakukan lagi tanpa tanpa nawaitu
Menyesallah, merintihlah, menangislah
Ketahuilah wahai hamba-hambaKu
Rintihan orang yang berdosa lebih aku cintai
Daripada tasbih para aulia’
Wahai hamba-hambaKu jangan bertangguh-tangguh lagi
Siapa lah yang tiada bersalah, kamu adalah hamba
Tapi Aku suka orang yang mengaku salah
Aku cinta kepada orang-orang yang bertaubat
Minta ampunlah kepadaKu wahai hamba-hambaKu
Janganlah bertangguh-tangguh lagi
Aku tetap menerimaMu, bukankah Aku Tuhanmu
KasihKu kepada hamba-hambaKu
Lebih dari seorang ibu yang kasih kepada anak-anaknya
Begitulah kehendak Allah kepada hamba-hambaNya
Rintihan Imam Bukhari

Di kala malam yang sunyi sepi
Sedang bumi insan tenggelam dalam tidur dan mimpi
Musafir yang malang ini tersentak bangun
Pergi membasuh diri
Untuk datang menghadap-Mu Tuhan

Lemah berlutut di hadapanMu
Sedu-sedan tangisku keharuan
Hamba yang lemah serta hina ini
Engkau terima juga mendekat
Bersimpuh dibawah Duli Kebesaran

Tuhan,
Hamab tidak tahu pasti
Bagaimana penerimaanMu
Di kala mendengar pengaduan hamba
Yang penuh dosa dan noda ini

Dalam wahyu yang Engkau nuzulkan
Engkau berjanji untuk sedia menerima pengaduan
Dan sudi memberi keampunan

Dan Muhammad RasulMu yang mulia itu
Pernah mengatakan :
“Ampunan Tuhan lebih besar dari kesalahan insan”.
Hamba percaya pada tutur kepastian itu
Sebab itu hamba datang wahai Tuhan
Bukan tidak redha dengan ujian
Cuma hendak mengadu padaMu
Tempat hamba kebali nanti
Memeohon sakinah, magfirah dan muthmainnah
Doa

Ku panjatkan doa keangkasa malam
Keribuan bintang...doaku terbang
Berjumpa bulan terdengar kuharap terdengar
Terkabulkan doa ku harap terkabulkan

Bening mutiara jatuh kepangkuan
Mengharap ridhoMu dari doaku
Betapa dosa kuharap terhapus
Jauh diriku dari azab Mu

Ya Rabb ku, kuatkan langkahku
Mengarungi samudraMu
Betapa kecilnya diriku di hadapan Mu
Oleh karena itu doa lah
Penghantarku ke Cinta Mu

(Siti Maeroswitasari)


###

lazuardi itu terlalu indah
bila kusamakan dengan isi hati ku yang begitu kelabu
memang riskan bukan...?

lazuardi itu terlalu cerah
bila disamakan dengan hari hariku yang jemu
semu itu...hidupku jemu


####

bergulana dalam sepi...berkata dengan bisu
menatap satu sebuah masa lalu
seolah tidak ada lagi yang tertinggal hari ini

merajut asa dalam semu
mengapai cita dalam sebuah angan beku
adakah warna yang dapat kuberi
kanvas hidup harus tetap berlanjut walau harus tanpa di beri

pena nasib dan takdir menari pasti
tapi tak satupun ku dapat mendahului
tinggal rindu yang kurajut menjadi doa
bukan sebuah kepulan debu yang kutiup lalu berlalu

ternyata memang hidup sebuah sandiwara
satu menangis, satu meringis...
satu terpaku...diam dalam lagu
lelah telah menjadi bagian diri
disini kubutuh sebuah tambatan hati..
yang selalu mencintai diri ini...........

(Siti Maeroswitasari)

Yang Kita Sia-siakan

Pengetahuan yang kita miliki
Sia-sia karena tak diamalkan
Perbuatan yang kita lakukan
Sia-sia karena tak disertai rasa ikhlas
Perjuangan yang kita lakukan
Sia-sia karena tak ada tujuan yang jelas
Pengorbanan yang kita lakukan
Sia-sia karena mengharapkan pujian
Marah yang kita lampiaskan
Sia-sia karena dilandasi emosi, bukan rasio
Cinta yang kita berikan
Sia-sia karena dilandasi syahwat semata
Kekayaan yang kita dapatkan
Sia-sia karena hanya untuk kepentingan pribadi
Kegagalan yang kita alami
Sia-sia karena dijadikan alasan keputusasaan
Musibah yang kita jumpai
Sia-sia karena tidak menjadikan diri kita semakin kuat
Kesuksesan yang kita raih
Sia-sia karena membuat kita semakin sombong
Anugerah yang kita dapatkan
Sia-sia karena tidak disyukuri
Pelajaran dan peringatan yang kita dengar atau baca
Sia-sia karena hanya melintas dalam pikiran



Tafakur
Things We Waste

Knowledge that we have
Wasted by not taking action with it
Deeds that we make
Wasted by committing them with no sincerity
Struggle that we do
Wasted because there is no clear objective
Sacrifice that we make
Wasted because intended to get honor
Anger that we express
Wasted by committing it with emotion, not clear mind
Love that we share
Wasted because derived from desire only
Wealthy that we get
Wasted because spent not for others
Failure that we face
Wasted because become the reason for desperation
Misery that we find
Wasted because it doesn’t make us stronger
Success that we gain
Wasted because it makes us more ignorant
Joy that we get
Wasted because we are not thankful for it
Lesson and words that we heard or read
Wasted because they only pass in our memory

Gigih hadi prayitno

TAK PEDULI
Lama sudah rindu ini kugendong, kujinjing, kutimang
Sejak aku gemar telanjang
Sampai kini aku telah berubah
Andai aku berjalan
aku berlari teramat jauh
Andai aku memanjat
aku telah mendaki teramat tinggi
andai aku menyelam
aku telah tenggelam teramat dalam
Namun aku masih inginkan
yang lebih jauh, yang lebih tinggi, yang lebih dalam
dari yang telah kulakukan
Rindu ini membuncah
Seakan mau meledak tak mampu aku tahan
Telah kulucuti semua duka dalam jiwa
Telah kutanggalkan semua nama dalam raga
Kubiarkan ocehan melengking menampar telinga
Kubiarkan caci maki menghujam sanubari
Aku tak peduli, aku tak peduli
Aku hanya ingin berlari
bersama rindu yang terpatri dalam diri
Aku hanya ingin mendaki
menggapai bintang-bintang yang teramat tinggi
Aku hanya ingin menyelam
menjemput mutiara dalam dasar lautan
Biar terperosok jurang
Biar terhempas taufan
Biar terseret gelombang
Biar semua mata memandang dengan kebencian
Biar sebutan gila terngiang siang malam
Aku tak peduli, aku tak peduli!
Aku akan terus berlari
Aku akan terus mendaki
Aku akan terus menyelam
Samapi pertemuan mampu kujabarkan
dan, kerinduan mampu aku persembahkan
pada-Nya
untuk-Nya
yang kurindu

Cikondang, Maret 1996
Ngisomuddin Abdushomad an-Nur
SATU DUA SATU
Saat awal kuintip dunia, kulihat kaki ibuku, ada dua
Saat awal kulahir ke dunia, kulihat susu ibuku, ada dua
Saat awal kukenal dunia, kulihat orang tuaku, ada dua
Saat awal kubaca dunia, kulihat bentuk manusia, ada dua
Saat awal kuintip agama, kulihat bibir guruku, ada dua
Saat awal aku belajar agama, kulihat mata guruku, ada dua
Saat awal kubaca agama, kulihat kaki guruku, ada dua
Saat awal aku mengerti agama, kulihat jalan guruku, ada dua
Setetes demi setetes
Hati ini, mulai menghirup bimbang, kenapa mesti ada dua
Ketika hati mulai kuyup
Tersiram derasnya kebimbangan, tetanggaku menasehati:
“Dua adalah kemudian, satu adalah awal,
tak mungkin kau dapatkan yang satu,
tanpa lewat yang dua”
Aku termangu, merenung bingung
Aku berjalan bersama bingung
Aku duduk, tidur, mimpi bersama bingung
Ketika bingung kian bingung, tetanggaku menasehati:
“Dari yang satu, tercipta yang dua,
Dari yang dua, kembali ke yang satu"
Aku tersentak
Bingungku meledak
Dengan merangkak, gigitan nyamuk malam kusibak
Dengan berenang, kuarungi seribu lautan
Namun bimbang tetaplah bimbang
Arah ke yang satu, tiada jua kutemukan
Kala harapan hampir sirna dari dada,
tetanggaku menasehati:
“Dua adalah jalan, dua adalah tirai
Lewati yang dua, bukalah yang dua,
Yang satu ada di sana”
Aku terperangah
Ada senyum dalam gundah
Perlahan aku berpaling dengan desah. Melengking
Kuraih dunia di tangan kiri, kuraih agama di tangan kanan
Kutimang keduanya, kemudian
Kusimpan dalam saku celana
Kusimpan agama dalam almari Qalbi
Kepada mereka aku berbisik:
“Wahai dunia dan agama, antarkan aku pada yang satu”

Cikondang, Januari 1996 Ngisomuddin Abdushomad an-Nur
Untuk : Semua yang mencari kebenaran
MENCARI KEPASTIAN
Tetes darah cinta
mengalir lembut di tepian bengawan asmara
Tertampung dalam muara-muara kasih
berpadu di antara desah sukma
Temaram sinar lampu yang berkedip malu
menjadi saksi bisu
dalam keindahan selimut rindu
Begitukah makna Kebahagiaan?
Waktu yang bergulir di pangkuan
melayang terbang
di sela pucuk-pucuk rerumputan
Kulempar kaki untuk mengejar
bersama nafas yang tersisa
Demi kasih yang bersemi d hati
Kucampakkan malu yang selalu menipu
Kulewati puuk-pucuk malam
hingga ke ujung siang
Namun, semuanya
berlabuh di pantai duka
Begitukah makna Kegagalan?
Senja itu aku berhenti berlari
Kulepas hati, bercumbu dengan mimpi-mimpi
Bintang itu terlalu tinggi
Matahari pun, tak mungkin kumiliki
Aku hanya punya kaki
Biarlah aku tidur,
di atas ranjang yang penuh lumpur
Begitukah makna Keputusasaan?
Benih kasih yang kutabur di ladang asmara
kini tumbuh penuh daun kembang
Semilir angin pagi
seakan berbisik di telinga hati
mengajak aku mencari rabuk
mengajak aku ciptakan pagar
Agar kembang subur terjaga
Begitukan makna Kewajiban?
Ada kebahagiaan, ada kegagalan
Ada keputusasaan, ada kewajiban
Begitukah makna Kehidupan?
Tuhan, kepada-Mu aku bertanya
Tolong beri aku kepastian,
agar jiwa tak lagi meronta
Tuhan, sujudku meminta.
Cikondang, Desember 1992 Ngisomuddin Abdushomad an-Nur
Ditulis di Kudus tahun 1983

Tidak ada komentar: